Jumat, 27 Mei 2011

Dapatkah Sindrom Asperger Merupakan Suatu Bentuk Skizofrenia?

Oleh Artikel Kedokteran

Hans Asperger pertama kali berpikir bahwa anak-anak yang mengidap Psikopati Autistik (istilah asli Asperger untuk Sindrom Asperger) memiliki kondisi yang dapat berkembang menjadi skizofrenia. Pemikiran ini muncul lebih dad 50 tahun silam, tetapi ketika itu, pengetahuan kita tentang skizofrenia sangatlah terbatas. Beberapa tanda negatif skizofrenia, seperti kurangnya pembicaraan dan gagasan-gagasan serta pendataran emosi, sangat serupa (Frith 1991).Namun, peluang pengidap Sindrom Asperger untuk berkembang menjadi skizofrenia lebih sedikit bila dibandingkan dengan individu lain. Sesungguhnya, Hans Asperger mengamati bahwa, dari 200 anak yang mengidap sindrom tersebut, hanya satu yang berkembang menjadi skizofrenia (Wolff 1995). Kajian-kajian terbaru tentang orang-orang dewasa pengidap Sindrom Asperger mengungkapkan bahwa, paling banyak, lima persen mengembangkan tanda-tanda skizofrenia (Tantam 1991; Wolff 1995).
Penulis mengamati, pasien-pasien dewasa yang dirujuk dad rumah sakit jiwa dengan diagnosis skizofrenia yang tidak khas, ketika diperiksa lebih teliti, ternyata memiliki catatan medic tentang perkembangan dan jenis kemampuan pengidap Sindrom Asperger dewasa. Dapatkah tanda-tanda yang muncul sekilas sama dengan skizofrenia, dan bagaimana Anda memberi tahu ketika penyakit skizofrenik yang sesungguhnya memang terjadi?
Beberapa orang dewasa pengidap Sindrom Asperger bisa saja memperlihatkan kemunduran kecakapan untuk sementara waktu, penarikan diri dari kehidupan sosial, ketiadaan perhatian pada kebersihan pribadi, dan keasyikan yang mendalam pada minat-minat mereka. Keadaan ini dapat ditafsirkan sebagai periode kemunduran yang mengawali tahap awal skizofrenia. Kendati terdapat perbedaan-perbedaan antara Sindrom Asperger dan skizofrenia, namun serangkaian kekeliruan sederhana dapat mengarah pada diagnosis yang keliru.
Sumber utama stres dalam kehidupan pengidap Sindrom Asperger adalah kontak sosial, dan peningkatan stres umumnya mengarah pada penyimpangan kecemasan serta depresi. Pengidap skizofrenia memiliki rentang faktor stres yang lebih luas, dan ketika stres berlebihan, mereka mengembangkan tanda-tanda nyata skizofrenia berupa halusinasi dan delusi.
Salah satu tanda skizofrenia adalah mengalami halusinasi pendengaran. Bila seorang pengidap Sindrom Asperger ditanyai oleh seorang psikiater, “Apakah Anda mendengar suara-suara?”, maka dia cenderung menjawab, “Ya.” Hal ini dikarenakan interpretasi literal mereka pada pertanyaan. Orang-orang tersebut tidak mengenali makna tersembunyi ketika pertanyaan ini diajukan oleh psikiater. Mungkin, pertanyaan lanjutannya, “Apakah Anda mendengar suara-suara orang yang tidak ada di sini?” Pertanyaan ini juga akan mendapat jawaban, “Ya.” Proses tanya jawab lebih jauh lagi akan menyingkapkan bahwa jawaban tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa para pengidap sindrom umumnya memang mampu mendengar orang-orang yang berbicara di ruang sebelah. Artinya, pengidap sindrom ini memiliki masalah kepekaan pendengaran dan bukan halusinasi, seperti yang dimiliki oleh pengidap skizofrenia.
Salah satu ciri Sindrom Asperger adalah sulit memahami pemikiran-pemikiran orang lain. Konsekuensinya, ciri itu, secara keliru, dapat dikaitkan dengan niat jahat. Padahal, kejadian tersebut kemungkinan memang betul-betul sekadar kecelakaan, namun ditafsirkan sebagai sesuatu yang merupakan sifatnya dan disengaja. Mungkin, pengidap Sindrom Asperger hanya mendengar selentingan tentang komentar-komentar yang bersifat menghina tentang kepribadian atau kemampuan sosial mereka. Hal ini kelak dapat menyebabkan dia sangat mencurigai orang lain pada tingkat yang mendekati paranoia. Namun, kondisi ini lebih disebabkan masalah mendapatkan ‘Teori Pikiran’ dan persepsi kehendak yang akurat daripada suatu distorsi realitas.
Pengidap Sindrom Asperger kemungkinan memiliki sifat yang tidak lazim pada kemampuan berbahasa. Sifat tersebut sekilas serupa dengan gangguan dalam berbicara dan berpikir yang diasosiasikan dengan skizofrenia. Orang-orang semacam itu kerap mengungkapkan pemikiran-pemikiran mereka, baik ketika bersama orang lain maupun ketika sendirian, misalnya ketika berada di kamar kecil atau kamar mandi. Mungkin, mereka memainkan kembali percakapan yang mereka ikuti sepanjang hari. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk berbicara sebagai orang ketiga, yakni tidak menggunakan ‘saya’ sebagai kata ganti orang yang tepat namun merujuk diri mereka sendiri sebagai ‘ia’. Keadaan ini membuat monolog jadi betul-betul ganjil, terutama ketika ‘percakapan’ yang dituturkan kembali melibatkan emosi-emosi yang kuat. Ciri Sindrom Asperger lainnya adalah kematangan emosi yang tertunda. Karena itu, remaja-remaja yang lebih besar dan orang dewasa yang lebih muda dapat membangun keyakinan pada hal-hal supranatural, yang tampaknya tidak dewasa dan kekanak-kanakan. Penjelasan-penjelasan mereka untuk peristiwa-peristiwa bisa saja melibatkan keajaiban dan fantasi. Mereka memiliki kesulitan untuk memisahkan fakta dari fiksi.



Pustaka
Sindrom Asperger Oleh Tony Attwood


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar